Buletin Kesehatan Mahasiswa
https://journal.fkm-untika.ac.id/index.php/jpmeo
<p><strong>Buletin Kesehatan Mahasiswa</strong> adalah media publikasi ilmiah khusus bagi mahasisya yang menyajikan hasil penelitian (<em>research paper</em>) ataupun laporan kasus (case report) di bidang kesehatan masyarakat yang meliputi kajian Epidemiologi, Kesehatan Lingkungan, Administrasi Kebijakan Kesehatan, Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku, Gizi Kesmas, Kesehatan & Keselamatan Kerja, Biostatistik dan Kependudukan, serta kajian ilmiah lainnya.</p>Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggaien-USBuletin Kesehatan Mahasiswa2964-7630Daya Hambat Infusa Daun Dalundung (Clerodendrum fragrans) terhadap Pertumbuhan Escherichia Coli
https://journal.fkm-untika.ac.id/index.php/jpmeo/article/view/390
<p>Daun dalundung merupakan salah satu tanaman lokal yang banyak dikonsumsi masyarakat Luwuk sebagai sayuran dan dipercaya memiliki khasiat obat tradisional. Analisis fitokimia menunjukkan bahwa daun ini mengandung berbagai metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, dan minyak atsiri yang berpotensi sebagai antibakteri alami yang mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri infusa daun dalundung terhadap pertumbuhan Escherichia coli secara in vitro, baik melalui metode difusi (sumuran) maupun metode dilusi (pengenceran bertingkat). Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental laboratorium dengan empat variasi konsentrasi infusa daun dalundung (22%, 16,5%, 11%, dan 5,5%) serta dua kontrol, yaitu kontrol positif (amoksisilin) dan kontrol negatif (akuades steril). Uji daya hambat dilakukan dengan metode difusi sumuran untuk mengukur zona hambat pertumbuhan bakteri, sedangkan metode dilusi digunakan untuk menentukan Konsentrasi Hambat Minimum dan Konsentrasi Bunuh Minimum. Data hasil pengamatan dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menilai diameter zona hambat dan keberadaan pertumbuhan koloni pada setiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infusa daun dalundung memiliki aktivitas antibakteri terhadap E. coli pada seluruh konsentrasi uji, dengan zona hambat tertinggi pada konsentrasi 16,5% sebesar 7,8 mm yang tergolong kategori sedang. Namun, uji dilusi menunjukkan bahwa tidak ada konsentrasi yang mencapai nilai KBM, sehingga efek antibakteri infusa daun dalundung bersifat bakteriostatik. Hasil ini menegaskan bahwa pelarut air hanya mengekstraksi senyawa polar seperti flavonoid dan tanin yang berperan dalam aktivitas penghambatan. Disarankan penelitian lanjutan menggunakan pelarut organik (etanol atau metanol), uji fitokimia kuantitatif, dan metode mikrodilusi spektrofotometri untuk memperoleh hasil yang lebih akurat dan potensi antibakteri yang optimal.</p> <p><em>Dalundung leaves are a local plant widely consumed by the Luwuk people as a vegetable and are believed to have traditional medicinal properties. Phytochemical analysis shows that these leaves contain various secondary metabolites such as flavonoids, tannins, saponins, alkaloids, and essential oils that have the potential to act as natural antibacterials that can inhibit the growth of microorganisms. Based on this, this study aims to determine the antibacterial activity of dalundung leaf infusion on the growth of Escherichia coli in vitro, both through the diffusion method (well) and the dilution method (multiple dilutions). This study used a laboratory experimental design with four variations in the concentration of dalundung leaf infusion (22%, 16.5%, 11%, and 5.5%) and two controls, namely a positive control (amoxicillin) and a negative control (sterile aquadest). The inhibitory test was carried out using the well diffusion method to measure the inhibition zone of bacterial growth, while the dilution method was used to determine the Minimum Inhibitory Concentration and Minimum Bactericidal Concentration. The observation data were analyzed descriptively quantitatively by assessing the diameter of the inhibition zone and the presence of colony growth in each treatment. The results showed that dalundung leaf infusion had antibacterial activity against E. coli at all test concentrations, with the highest inhibition zone at a concentration of 16.5% of 7.8 mm, which is classified as moderate. However, the dilution test showed that no concentration reached the MBC value, so the antibacterial effect of dalundung leaf infusion was bacteriostatic. These results confirm that the water solvent only extracts polar compounds such as flavonoids and tannins that play a role in inhibitory activity. Further research is recommended using organic solvents (Ethanol or Methanol), quantitative phytochemical tests, and spectrophotometric microdilution methods to obtain more accurate results and optimal antibacterial potential.</em></p>Harnum MelianiMaria KananBambang Dwicahya
Copyright (c) 2026 Harnum Meliani, Maria Kanan, Bambang Dwicahya
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-01-252026-01-2542526110.51888/jpmeo.v4i2.390Gambaran Determinan Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Karyawan di PT. Koninis Fajar Mineral
https://journal.fkm-untika.ac.id/index.php/jpmeo/article/view/391
<p>Industri pertambangan memiliki risiko keselamatan dan kesehatan kerja yang tinggi akibat paparan debu, bahan kimia, penggunaan alat berat, hingga kondisi lingkungan kerja yang tidak aman, implementasi K3 yang baik dapat menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, nyaman sehingga dapat meningkatkan produktivitas pekerja (Almansyah, 2023). Berdasarkan data International Labour Organization (ILO), lebih dari 2,78 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan dan penyakit akibat kerja, serta sekitar 374 juta pekerja mengalami cedera non-fatal. Data Kementerian ESDM tahun 2021 mencatat 93 kecelakaan tambang dengan 11 korban meninggal, sedangkan di Kabupaten Banggai periode 2021–2024 di PT. Koninis terdapat 7–10 kasus kecelakaan kerja tiap tahun. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Gambaran Determinan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Pada Karyawan Di PT. Koninis Fajar Mineral. Penelitian deskriptif. Populasi seluruh tenaga kerja berjumlah 50 orang menggunakan teknik total sampling. Data diolah menggunakan SPSS. Analisis univariat. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kapasitas kerja dengan kriteria baik berjumlah 37 orang (74%) dan kurang baik berjumlah 13 orang (26%), beban kerja dengan kriteria baik berjumlah 8 orang (16%) dan kurang baik berjumlah 42 orang (84%), lingkungan kerja fisik berdasarkan pengukuran pencahayaan area workshop 86,8 lux dan area preparasi 294 lux termasuk dalam kategori unsafety, kebisingan pada area workshop 78,44 dBA area preparasi 80,17 dBA termasuk kategori safety adapun suhu lingkungan kerja 27℃ termasuk kategori safety. Kesimpulannya, gambaran determinan K3 pada karyawan PT. Koninis Fajar Mineral masih kurang baik. Perusahaan diharapkan lebih memperhatikan kapasitas kerja, beban kerja, serta perbaikan kondisi lingkungan kerja untuk meminimalisir risiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja.</p> <p><em> The mining industry has a high risk of occupational safety and health due to exposure to dust, chemicals, heavy equipment, and unsafe working conditions. Proper implementation of Occupational Safety and Health (OSH) can create a safe, healthy, and comfortable environment, thus improving worker productivity (Almansyah, 2023). According to the International Labour Organization (ILO), more than 2.78 million people die annually from work-related accidents and diseases, while about 374 million workers suffer non-fatal injuries. Data from the Ministry of Energy and Mineral Resources (ESDM) in 2021 reported 93 mining accidents with 11 deaths, while in Banggai Regency during 2021–2024, PT. Koninis recorded 7–10 accidents each year. This study aims to describe the determinants of OSH among employees at PT. Koninis Fajar Mineral. This descriptive study involved 50 workers using a total sampling technique. Data were processed with SPSS and analyzed univariately. The results showed that work capacity with good criteria was found in 37 workers (74%) and poor criteria in 13 workers (26%). Workload with good criteria was found in 8 workers (16%) and poor criteria in 42 workers (84%). Physical environment measurements showed lighting in the workshop at 86.8 lux and in preparation at 294 lux, categorized as unsafe; noise levels were 78.44 dBA in the workshop.</em></p>Intan Permatasari KiasanSandy Novriyanto SakatiBambang DwicahyaMirawati Tongko
Copyright (c) 2026 Intan Permatasari Kiasan, Sandy Novriyanto Sakati, Bambang Dwicahya, Mirawati Tongko
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-01-252026-01-2542626810.51888/jpmeo.v4i2.391Unsafe Action pada Pekerja di PT Bone Perdana Konstruksi di Kecamatan Batui Selatan
https://journal.fkm-untika.ac.id/index.php/jpmeo/article/view/392
<p>Kecelakaan kerja umumnya disebabkan oleh <em>unsafe</em> <em>action</em> dan unsafe condition, yang masih sering terjadi akibat kurangnya pengetahuan dan pemahaman pekerja terhadap prinsip keselamatan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran <em>unsafe action</em> pada pekerja PT Bone Perdana Konstruksi di Kecamatan Batui Selatan. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan desain deskriptif. Populasi sekaligus sampel dalam penelitian ini berjumlah 42 pekerja bagian produksi, dengan teknik pengambilan sampel total sampling. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan perilaku unsafe action pekerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja bekerja dengan kriteria aman (<em>safety</em>) yaitu sebanyak 41 orang (97,6%), sedangkan 1 orang (2,4%) masih menunjukkan perilaku <em>unsafe action</em>. Perilaku berisiko yang masih ditemukan antara lain bekerja secara terburu-buru dan merokok di area kerja. Disimpulkan bahwa penerapan keselamatan kerja di PT Bone Perdana Konstruksi tergolong baik, namun perusahaan perlu meningkatkan pengawasan dan manajemen kerja guna meminimalkan potensi <em>unsafe</em> <em>action</em> yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja.</p> <p><em> Workplace accidents are generally caused by unsafe actions and unsafe conditions, which still frequently occur due to workers' lack of knowledge and understanding of occupational safety principles. This study aims to determine the description of unsafe actions among workers at PT Bone Perdana Konstruksi in Batui Selatan District. The type of research used is observational with a descriptive design. The population and sample in this study amounted to 42 production workers, with a total sampling technique. Data analysis was conducted univariately to describe the behavior of unsafe actions of workers. The results showed that most workers worked with safe criteria, namely 41 people (97.6%), while 1 person (2.4%) still exhibited unsafe actions. Risky behaviors that were still found included working in a hurry and smoking in the work area. It was concluded that the implementation of occupational safety at PT Bone Perdana Konstruksi was classified as good, but the company needs to improve work supervision and management to minimize the potential for unsafe actions that can cause workplace accidents.</em></p>Ni Komang JuliantiFitrianty Sutadi LanyumbaBambang Dwicahya
Copyright (c) 2026 Ni Komang Julianti, Fitrianty Sutadi Lanyumba, Bambang Dwicahya
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2025-01-252025-01-2542697510.51888/jpmeo.v4i2.392Gambaran Material Handling dan Personal Protective Equitpment dalam Pencegahan Kecelakaan dan Penyakit Akibat Kerja pada Tenaga Kerja Bongkar Muat di Pelabuhan Banggai Laut
https://journal.fkm-untika.ac.id/index.php/jpmeo/article/view/393
<p>Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja masih menjadi masalah kesehatan yang sering dijumpai pada tenaga kerja bongkar muat (TKBM) di pelabuhan. Risiko ini meningkat akibat dominasi penggunaan manual handling serta rendahnya penerapan <em>Personal Protective Equipment</em> (PPE). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran material handling dan penggunaan PPE dalam pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja pada TKBM di Pelabuhan Banggai Laut. Jenis penelitian adalah observasional deskriptif. Populasi penelitian adalah seluruh TKBM di Pelabuhan Banggai Laut berjumlah 173 orang, dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara menggunakan lembar observasi berupa kuesioner, kemudian diolah dengan SPSS versi 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden masih melakukan manual handling (73,4%), sedangkan yang menggunakan equipment/machine handling hanya 26,6%. Seluruh responden (100%) tidak menggunakan helm, kacamata pelindung, masker, dan penutup telinga. Namun, 68,2% responden menggunakan sarung tangan, meskipun tidak sesuai standar keselamatan. Kondisi ini menunjukkan bahwa penerapan material handling berbasis mekanis dan penggunaan PPE pada TKBM di Pelabuhan Banggai Laut masih sangat rendah. Disimpulkan bahwa rendahnya pemanfaatan equipment handling dan minimnya penggunaan PPE meningkatkan risiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja pada TKBM. Diharapkan pihak pelabuhan menyediakan PPE sesuai regulasi, serta melakukan pelatihan ergonomi dan K3 untuk meningkatkan keselamatan kerja.</p> <p><em> Work accidents and occupational diseases remain significant health problems frequently encountered among dock workers (TKBM) at the port. This risk increases due to the dominance of manual handling activities and the low implementation of Personal Protective Equipment (PPE). This study aims to describe material handling and the use of PPE in the prevention of work accidents and occupational diseases among TKBM at Banggai Laut Port. The type of research is descriptive observational. The study population consisted of all TKBM at Banggai Laut Port, totaling 173 workers, using a total sampling technique. Data were collected through observation and interviews using an observation sheet in the form of a questionnaire and then processed with SPSS version 20. The results showed that most respondents still performed manual handling (73.4%), while only 26.6% used equipment or machine handling. All respondents (100%) did not use helmets, protective glasses, masks, or ear protection. However, 68.2% of respondents used gloves, although not in accordance with safety standards. This condition indicates that the implementation of mechanical-based material handling and the use of PPE among TKBM at Banggai Laut Port is still very low. It can be concluded that the low utilization of equipment handling and the minimal use of PPE increase the risk of work accidents and occupational diseases among TKBM. It is recommended that the port authority provide PPE according to regulations and conduct ergonomic and occupational health and safety training to improve workplace safety.</em></p>Lidya KalikiBambang DwicahyaSandy Novriyanto Sakati
Copyright (c) 2026 Lidya Kaliki, Bambang Dwicahya, Sandy Novriyanto Sakati
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-01-252026-01-2542768210.51888/jpmeo.v4i2.393Uji Laboratorium Efektivitas Ekstrak Daun Jarak Kepyar (Ricinus communis linn) sebagai Larvasida terhadap Larva Anopheles sp.
https://journal.fkm-untika.ac.id/index.php/jpmeo/article/view/394
<p>Malaria merupakan penyakit endemik di Indonesia yang ditularkan oleh nyamuk <em>Anopheles sp</em>. dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Upaya pengendalian larva umumnya menggunakan larvasida kimia, namun dapat berpotensi menimbulkan resistensi dan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan alternatif larvasida alami yang lebih aman dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun jarak kepyar terhadap mortalitas larva <em>larval mortality</em>. pada instar I – IV. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen sejati (true experiment) dengan rancangan Posttest Only Control Group Design. Sampel berupa larva <em>larval mortality</em>. instar I–IV sebanyak 25 ekor per kelompok. Ekstrak daun jarak kepyar diperoleh melalui metode maserasi dan diuji pada konsentrasi 453 ppm. Data mortalitas larva diamati setiap dua jam hingga 48 jam. Hasil penelitian menunjukkan mortalitas rata-rata tertinggi terjadi pada instar I (45,3%) dan terendah pada instar IV (21,3%). Sehingga, konsentrasi 453 ppm belum efektif sebagai larvasida standar. Kesimpulannya, ekstrak daun jarak kepyar memiliki potensi sebagai larvasida nabati, tetapi pada konsentrasi ini belum optimal. Serta terdapat perbedaan mortalitas yang signifikan pada instar I, II, dengan instar III, IV. Disarankan penelitian lanjutan dengan variasi konsentrasi lebih tinggi dan waktu pengamatan diperpanjang untuk memperoleh efektivitas maksimal.</p> <p><em> Malaria is an endemic disease in Indonesia transmitted by Anopheles sp. mosquitoes and remains a public health problem. Larval control efforts generally use chemical larvicides, but these can potentially cause resistance and environmental pollution. Therefore, safer and more environmentally friendly natural larvicides are needed. This study aims to determine the effectiveness of castor bean leaf extract on larval mortality in instars I–IV. This study used a true experiment method with a Posttest Only Control Group Design. The sample consisted of 25 larvae of instar I–IV per group. The extract of castor bean leaves was obtained through the maceration method and tested at a concentration of 453 ppm. Larval mortality data were observed every two hours for up to 48 hours. The results showed that the highest average mortality occurred in instar I (45.3%) and the lowest in instar IV (21.3%). Therefore, the concentration of 453 ppm was not yet effective as a standard larvicide. In conclusion, castor bean leaf extract has potential as a botanical larvicide, but at this concentration it is not yet optimal. There was also a significant difference in mortality between instars I and II and III and IV. Further research with higher concentration variations and extended observation time is recommended to achieve maximum effectiveness.</em></p>Mifthy RamadantiBambang DwicahyaMuhammad Syahrir
Copyright (c) 2026 Mifthy Ramadanti, Bambang Dwicahya, Muhammad Syahrir
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-01-252026-01-2542839210.51888/jpmeo.v4i2.394Gambaran Sanitasi Dasar di Wilayah Kerja Puskesmas Bungin, Kecamatan Bokan Kepulauan
https://journal.fkm-untika.ac.id/index.php/jpmeo/article/view/395
<p>Kondisi sanitasi dasar yang buruk di Indonesia masih menjadi permasalahan kesehatan, termasuk di Provinsi Sulawesi Tengah dan Kabupaten Banggai Laut. Akses jamban sehat di Banggai Laut hanya mencapai 73% pada tahun 2023, dengan kondisi di wilayah kerja Puskesmas Bungin yang lebih memprihatinkan, ditunjukkan dengan cakupan SPAL yang memenuhi syarat hanya 0,04% dan ketersediaan tempat sampah hanya 7% (data Triwulan I tahun 2024).Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran sanitasi dasar, meliputi ketersediaan dan kualitas air bersih, jamban, SPAL, dan tempat sampah di wilayah kerja Puskesmas Bungin, Kecamatan Bokan Kepulauan Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian adalah 2.170 rumah di wilayah kerja Puskesmas Bungin, dengan sampel sebanyak 326 rumah. Pengambilan data dilakukan dengan data primer melalui observasi dan wawancara, serta data sekunder. Variabel yang diteliti mencakup gambaran sanitasi dasar yang meliputi air bersih, jamban sehat, Saluran Pembuangan Air Limbah, dan tempat sampah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran sanitasi dasar di wilayah kerja Puskesmas Bungin secara keseluruhan tidak memenuhi syarat dengan persentase 100%. Meskipun ketersediaan dan kualitas fisik air bersih memenuhi syarat, namun kondisi jamban sehat yang memenuhi syarat hanya 54,9%, dan kondisi SPAL serta tempat sampah sebagian besar tidak memenuhi syarat. Kesimpulan penelitian ini adalah gambaran sanitasi dasar di wilayah kerja Puskesmas Bungin Kecamatan Bokan Kepulauan Tahun 2025 100% masih dalam kategori Tidak Memenuhi Syarat. Disarankan kepada Dinas Kesehatan dan Puskesmas untuk menjadikan hasil ini sebagai acuan dalam upaya perbaikan sanitasi, serta meningkatkan edukasi masyarakat terkait kebersihan dan perilaku hidup sehat.</p> <p><em> Poor basic sanitation conditions in Indonesia remain a health problem, including in Central Sulawesi Province and Banggai Laut Regency. Access to healthy latrines in Banggai Laut only reached 73% in 2023, with conditions in the Bungin Community Health Center working area being even more concerning, indicated by the coverage of SPAL that meets the requirements of only 0.04% and the availability of trash bins only 7% (data from the first quarter of 2024). This study aims to obtain an overview of basic sanitation, including the availability and quality of clean water, latrines, SPAL, and trash bins in the Bungin This study used a descriptive design with a quantitative approach. The study population was 2,170 houses in the Bungin Community Health Center work area, with a sample of 326 houses. Data collection was carried out using primary data through observation and interviews, as well as secondary data. The variables studied included a description of basic sanitation which includes clean water, healthy latrines, wastewater drainage channels, and trash cans. The results of the study indicate that the description of basic sanitation in the Bungin Community Health Center work area as a whole does not meet the requirements with a percentage of 100%. Although the availability and physical quality of clean water meet the requirements, the condition of healthy latrines that meet the requirements is only 54.9%, and the condition of SPAL and trash cans mostly do not meet the requirements. The conclusion of this study is that the description of basic sanitation in the Bungin Community Health Center work area, Bokan Kepulauan District, in 2025 is 100% still in the category of Not Meeting Requirements. It is recommended that the Health Office and Community Health Center use these results as a reference in efforts to improve sanitation, as well as increase public education regarding cleanliness and healthy living behavior.</em></p>RidaBambang DwicahyaYustiyanty Monoarfa
Copyright (c) 2026 Rida, Bambang Dwicahya, Yustiyanty Monoarfa
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-01-252026-01-25429310010.51888/jpmeo.v4i2.395Penerapan Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit Berdasarkan Permenkes Nomor 66 Tahun 2016 di Rs Pratama Pagimana
https://journal.fkm-untika.ac.id/index.php/jpmeo/article/view/396
<p>Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (K3RS) merupakan aspek penting dalam menjaga keselamatan tenaga kerja, pasien, pengunjung, dan lingkungan rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan standar K3RS ber dasarkan Permenkes No. 66 Tahun 2016 di RS Pratama Pagimana. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan observasional, yang dilakukan pada bulan oktober tahun 2025. Populasi penelitian mencakup seluruh tenaga kesehatan di RS Pratama Pagimana, dengan sampel yang diambil menggunakan teknik stratified sampling sebanyak 9 Unit. Data dikumpulkan melalui lembar observasi yang disusun berdasarkan delapan komponen K3RS sesuai dengan regulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penerapan K3RS di RS Pratama Pagimana secara umum sudah mengacu pada ketentuan Permenkes No.66 Tahun 2016, Namun belum berjalan optimal sebesar 53%, pada aspek seperti keselamatan dan keamanan, pelayanan kesehatan kerja, pencegahan kebakaran, pengelolaan prasarana, dan kesiapsiagaan bencana masih perlu ditingkatkan. Adapun beberapa aspek yang sudah berjalan optimal sebesar 47%, yaitu pada aspek manajemen risiko K3RS, pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3) serta pengelolaan peralatan medis. Hambatan utama berasal dari keterbatasan sarana, sumber daya manusia, serta kurangnya pelatihan dan sosialisasi rutin. Kesimpulan RS telah memiliki komitmen terhadap K3RS, namun diperlukan peningkatan dalam pengawasan, pembinaan, serta penyediaan sarana dan prasarana penunjang agar pelaksanaannya lebih optimal dan berkelanjutan.</p> <p><em>Hospital Occupational Safety and Health (K3RS) is an important aspect in maintaining the safety of workers, patients, visitors, and the hospital environment. This study aims to describe the implementation of K3RS standards based on Permenkes No. 66 of 2016 at Pratama Pagimana Hospital. This type of research is descriptive quantitative with an observational approach, which was conducted in October 2025. The study population included all health workers at Pratama Pagimana Hospital, with samples taken using stratified sampling techniques of 9 units. Data were collected through observation sheets compiled based on eight K3RS components in accordance with regulations. The results of the study indicate that the implementation of K3RS at Pratama Pagimana Hospital in general has referred to the provisions of the Minister of Health Regulation No. 66 of 2016, but has not been running optimally by 53%, in aspects such as safety and security, occupational health services, fire prevention, infrastructure management, and disaster preparedness still need to be improved. There are several aspects that have been running optimally by 47%, namely in the aspect of K3RS risk management, management of hazardous and toxic materials (B3) and management of medical equipment. The main obstacles come from limited facilities, human resources, and lack of routine training and socialization. Conclusion The hospital has a commitment to K3RS, but improvements are needed in supervision, guidance, and provision of supporting facilities and infrastructure so that its implementation is more optimal and sustainable.</em></p>Yulianti Clarita NanggeleBambang DwicahyaYunita Sari Thirayo
Copyright (c) 2026 Yulianti Clarita Nanggele, Bambang Dwicahya, Yunita Sari Thirayo
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-01-252026-01-254210111110.51888/jpmeo.v4i2.396Efektivitas Ekstrak Daun Jarak Kepyar (Ricinus communis linn) terhadap Mortalitas Larva Culex Sp.
https://journal.fkm-untika.ac.id/index.php/jpmeo/article/view/397
<p>Nyamuk <em>Culex sp</em>. merupakan salah satu vektor penyakit menular seperti filariasis yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Larva <em>Culex sp</em>. hidup di perairan yang mengandung bahan organik dan aktif memakan mikroorganisme serta kotoran organik. Upaya pengendalian larva umumnya menggunakan larvasida kimia, namun penggunaannya dalam jangka panjang dapat menimbulkan resistensi dan dampak negatif terhadap lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan alternatif larvasida alami yang lebih aman dan ramah lingkungan, salah satunya berasal dari tanaman jarak kepyar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun jarak kepyar terhadap mortalitas larva Culex sp. Penelitian menggunakan metode eksperimen sejati dengan rancangan Posttest Only Control Group Design. Sampel berupa larva Culex sp. instar III dan IV sebanyak 25 ekor per kelompok perlakuan. Ekstrak daun jarak kepyar dibuat dengan metode maserasi dingin dan diuji pada dua konsentrasi, yaitu 138 ppm dan 453 ppm, serta disertai kontrol positif dan negatif. Data mortalitas dianalisis menggunakan uji ANOVA dan Mann–Whitney U. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mortalitas larva meningkat seiring peningkatan konsentrasi, yaitu pada instar III sebesar 5,33% (138 ppm) dan 10,67% (453 ppm), sedangkan pada instar IV sebesar 4% (138 ppm) dan 8% (453 ppm). Analisis statistik menunjukkan nilai signifikansi > 0,05, yang berarti tidak terdapat perbedaan nyata antar konsentrasi maupun antar instar. Kesimpulannya, ekstrak daun jarak kepyar belum efektif sebagai larvasida terhadap larva Culex sp. karena tingkat kematian masih di bawah nilai LC₅₀ dan LC₉₀. Disarankan penelitian lanjutan dengan konsentrasi ekstrak lebih tinggi, waktu paparan lebih lama, serta uji fitokimia untuk mengidentifikasi senyawa aktif yang berpotensi sebagai larvasida nabati.</p> <p><em>Culex sp. mosquitoes are one of the vectors of infectious diseases such as filariasis, which remains a public health problem in Indonesia. Culex sp. larvae live in waters containing organic matter and actively feed on microorganisms and organic waste. Larvae control efforts generally use chemical larvicides, but long-term use can cause resistance and negative impacts on the environment. Therefore, safer and more environmentally friendly natural larvicides are needed, one of which is derived from the castor bean plant. This study aims to determine the effectiveness of castor bean leaf extract on the mortality of Culex sp. larvae. The study used a true experimental method with a Posttest Only Control Group Design. Samples were 25 instar III and IV Culex sp. larvae per treatment group. The castor bean leaf extract was prepared using the cold maceration method and tested at two concentrations, namely 138 ppm and 453 ppm, and accompanied by positive and negative controls. Mortality data were analyzed using ANOVA and Mann–Whitney U tests. The results showed that larval mortality increased with increasing concentration, namely in instar III by 5.33% (138 ppm) and 10.67% (453 ppm), while in instar IV by 4% (138 ppm) and 8% (453 ppm). Statistical analysis showed a significance value > 0.05, which means there was no significant difference between concentrations or between instars. In conclusion, castor bean leaf extract is not yet effective as a larvicide against Culex sp. larvae because the mortality rate is still below the LC₅₀ and LC₉₀ values. Further research is recommended with higher extract concentrations, longer exposure times, and phytochemical tests to identify active compounds that have the potential as botanical larvicides.</em></p>Asmaul Husna MakkaBambang DwicahyaMuhammad SyahrirMaria KananDeddy Alif Utama
Copyright (c) 2026 Asmaul Husna Makka, Bambang Dwicahya, Muhammad Syahrir, Maria Kanan, Deddy Alif Utama
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-01-252026-01-254211212210.51888/jpmeo.v4i2.397Hubungan Antara Kepemimpinan Transformasional dengan Kepuasan Kerja Pegawai di RSUD Otanaha
https://journal.fkm-untika.ac.id/index.php/jpmeo/article/view/400
<p>Rumah sakit merupakan lembaga pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelayanan secara menyeluruh, meliputi rawat jalan, rawat inap, gawat darurat, dan laboratorium. Hubungan kepemimpinan dengan kepuasan kerja merupakan cara seorang pemimpin dalam memengaruhi dan mengarahkan individu untuk bersama-sama mencapai tujuan organisasi. Permasalahan yang ditemukan menunjukkan bahwa sebagian pegawai masih mengeluhkan cara pemimpin dalam menangani keluhan pegawai, seperti ketidaksesuaian antara gaji dan beban kerja serta lamanya proses pengangkatan menjadi pegawai tetap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepemimpinan transformasional dengan kepuasan kerja pegawai di RSUD Otanaha. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan asosiatif. Populasi penelitian berjumlah 387 pegawai, dengan sampel sebanyak 80 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner. Hasil uji statistik korelasi Rank Spearman menunjukkan nilai p = 0,004 < 0,05 dengan koefisien korelasi sebesar 0,318 yang berada pada kategori korelasi rendah. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa pegawai di RSUD Otanaha merasa cukup puas terhadap kepemimpinan transformasional. Saran penelitian ini adalah agar pihak rumah sakit melakukan evaluasi secara berkala terhadap kepuasan kerja pegawai terkait hubungan kepemimpinan dengan kinerja.</p> <p><em>Hospitals are healthcare service institutions that provide comprehensive services, including outpatient care, inpatient care, emergency services, and laboratory services. The relationship between leadership and job satisfaction refers to the way a leader influences and directs individuals to collectively achieve organizational goals. The problems identified indicate that some employees still complain about the way leaders handle employee grievances, such as the mismatch between salary and workload and the lengthy process of appointment as permanent employees. This study aims to determine the relationship between transformational leadership and employee job satisfaction at RSUD Otanaha. This research is a quantitative study using an associative approach. The research population consisted of 387 employees, with a sample of 80 respondents determined using the Slovin formula. The research instrument used was a questionnaire. The results of the Spearman Rank correlation statistical test showed a p-value of 0.004 < 0.05, with a correlation coefficient of 0.318, which falls into the low correlation category. The conclusion of this study indicates that employees at RSUD Otanaha are moderately satisfied with transformational leadership. This study recommends that hospital management conduct regular evaluations of employee job satisfaction related to the relationship between leadership and performance.</em></p>Basri UmarLilis HandayaniRosdiana KaharuMaimun I. BilondatuNinda S. Maga
Copyright (c) 2026 Basri Umar, Lilis Handayani, Rosdiana Kaharu, Maimun I. Bilondatu, Ninda S. Maga
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-01-252026-01-254212313110.51888/jpmeo.v4i2.400Gambaran Gangguan Pendengaran pada Karyawan di PT Unit Layanan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (ULPLTD) Luwuk
https://journal.fkm-untika.ac.id/index.php/jpmeo/article/view/401
<p>Gangguan pendengaran akibat kebisingan merupakan salah satu dampak lingkungan kerja yang tidak aman dan menjadi isu penting dalam keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Data WHO (2023) menunjukkan sekitar 430 juta orang mengalami gangguan pendengaran dan diperkirakan meningkat hingga 700 juta pada tahun 2050. Industri pembangkit listrik termasuk sektor dengan tingkat kebisingan tinggi yang berisiko menimbulkan gangguan pendengaran pada pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran gangguan pendengaran pada karyawan PT Unit Layanan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (ULPLTD) Luwuk. Penelitian menggunakan desain observasional deskriptif dengan teknik total sampling terhadap 66 pekerja aktif. Pemeriksaan pendengaran dilakukan menggunakan hearing test berbasis frekuensi suara (Pitch/Hz) dan audiometri tutur, kemudian dianalisis secara univariat. Hasil menunjukkan bahwa pada telinga kanan, sebagian besar pekerja memiliki pendengaran normal (78,6%), sedangkan 16,1% mengalami gangguan pendengaran ringan dan 5,4% sedang. Pada telinga kiri, 87,5% pekerja memiliki pendengaran normal, 10,7% mengalami gangguan ringan, dan 1,8% sedang. Secara keseluruhan, terdapat 19,7% pekerja yang mengalami gangguan pendengaran ringan hingga sedang pada salah satu atau kedua telinga. Pemeriksaan audiometri tutur menunjukkan seluruh pekerja masih mampu mengenali dan memahami suara dengan baik. Gangguan pendengaran diduga berkaitan dengan paparan kebisingan yang melebihi Nilai Ambang Batas 85 dBA. Oleh karena itu, perusahaan disarankan melakukan deteksi dini secara berkala, pengendalian kebisingan, serta meningkatkan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri.</p> <p><em>Noise-induced hearing loss is one of the impacts of unsafe working environments and remains an important issue in occupational health and safety. According to the World Health Organization (2023), approximately 430 million people worldwide experience hearing impairment, and this number is projected to increase to 700 million by 2050. Power generation industries are among the sectors with high noise exposure, placing workers at risk of hearing disorders. This study aimed to describe the occurrence of hearing disorders among employees at the Diesel Power Plant Service Unit (ULPLTD) Luwuk. A descriptive observational study was conducted using a total sampling technique involving 66 active workers. Hearing assessments were performed using frequency-based hearing tests (Pitch/Hz) and speech audiometry. Data were analyzed using univariate analysis. The results showed that in the right ear, 78.6% of workers had normal hearing, while 16.1% experienced mild hearing loss and 5.4% had moderate hearing loss. In the left ear, 87.5% of workers had normal hearing, 10.7% had mild hearing loss, and 1.8% had moderate hearing loss. Overall, 19.7% of workers experienced mild to moderate hearing loss in one or both ears. Speech audiometry indicated that all workers (100%) were still able to recognize and understand speech sounds. Hearing disorders were suspected to be associated with noise exposure exceeding the permissible exposure limit of 85 dBA. Therefore, regular early detection, effective noise control measures, and strict use of personal protective equipment are strongly recommended.</em></p>Fitri Ramadani IrwanMaria KananMirawati TongkoSandy Novriyanto SakatiDwi Wahyu BalebuFerdy Salamat
Copyright (c) 2026 Fitri Ramadani Irwan, Maria Kanan, Mirawati Tongko, Sandy Novriyanto Sakati, Dwi Wahyu Balebu, Ferdy Salamat
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-01-252026-01-254213213810.51888/jpmeo.v4i2.401Efek Larvasida Daun Jarak Kepyar (Ricinus communis linn) pada Organisme non-target
https://journal.fkm-untika.ac.id/index.php/jpmeo/article/view/405
<p>Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan yang signifikan, termasuk Indonesia. Tanaman jarak kepyar telah diketahui memiliki sifat larvasida terhadap larva nyamuk aedes pada beberapa penelitian, namun perlu dilakukan studi tentang pengaruh efek residu larvasida daun jarak kepyar untuk mengevaluasi risiko potensial dan efek jangka Panjang dan peninjauan ekstrak daun jarak kepyar terhadap organisme non-target. Metode penelitian larvasida ekstrak daun jarak kepyar dilakukan menggunakan metode maserasi. Pembuatan ekstrak daun jarak kepyar menggunakan 4 jenis pelarut yang berbeda. Bahan Daun Jarak Kepyar dibagi menjadi dua yaitu daun muda dan daun tua. efek pada organisme non-target dilakukan pengamatan sampai pada hari ke-7 setelah perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan efek ekstrak daun jarak (menggunakan 4 pelarut) baik daun muda maupun daun tua terhadap organisme non-target (ikan guppy) tidak menimbulkan mortalitas pada ikan selama 3 kali percobaan. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu ekstrak daun jarak kepyar tidak menimbulkan efek mortalitas pada ikan guppy.</p> <p><em>Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is still a significant health problem, including in Indonesia. The castor plant has been known to have larvicidal properties against aedes mosquito larvae in several studies, but a study is needed on the effect of residual effects of castor leaf larvicidal to evaluate potential risks and long-term effects and review of castor leaf extract on non-target organisms. Research method: castor leaf extract larvicidal was carried out using the maceration method. The manufacture of castor leaf extract used 4 different types of solvents. Castor leaf material was divided into two, namely young leaves and old leaves. the effect on non-target organisms was observed until the 7th day after treatment. The results showed that the effect of castor leaf extract (using 4 solvents) both young leaves and old leaves on non-target organisms (guppy fish) did not cause mortality in fish during 3 trials. The conclusion in this study is that castor leaf extract does not cause mortality in guppy fish.</em></p>Bambang DwicahyaA. Arsunan ArsinHasanuddin IshakFirdaus Hamid
Copyright (c) 2026 Bambang Dwicahya, A. Arsunan Arsin, Hasanuddin Ishak, Firdaus Hamid
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-01-252026-01-254213914310.51888/jpmeo.v4i2.405Analisis Insidensi Kecelakaan Lalu Lintas (Road Traffic Accident) di Kota Luwuk Kabupaten Banggai
https://journal.fkm-untika.ac.id/index.php/jpmeo/article/view/415
<p>Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu permasalahan utama keselamatan transportasi yang berdampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat, sosial, dan ekonomi. Tingginya tingkat fatalitas dan cedera akibat kecelakaan lalu lintas tidak hanya menimbulkan kerugian materiil, tetapi juga berdampak pada penurunan produktivitas, beban sistem kesehatan, serta kualitas hidup masyarakat perkotaan. Kota Luwuk sebagai mengalami peningkatan mobilitas dan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor dari tahun ke tahun. Untuk itu, diperlukan kajian komprehensif mengenai karakteristik dan faktor penyebab kecelakaan lalu lintas di Kota Luwuk. Tujuan penelitian untuk <strong>menganalisis karakteristik, pola, dan faktor penyebab kecelakaan lalu lintas di Kota Luwuk Kabupaten Banggai</strong> berdasarkan data kejadian dan lokasi. Metode penelitian <strong>deskriptif</strong> <strong>kuantitatif</strong> yang didukung oleh analisis spasial. Data yang digunakan berupa data sekunder kecelakaan lalu lintas yang diperoleh dari Kepolisian, fasilitas pelayanan kesehatan meliputi waktu kejadian, lokasi, karakteristik korban, dan tingkat keparahan kecelakaan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan trend kasus di tahun 2024 yaitu 135 kasus road traffic accident di Kota Luwuk kabuapten Banggai. Mayoritas pengendara yang mengalami insiden keceakaan lalu lintas berjenis kelamin laki-laki (60 %), berada dalam kelompok usia produktif (70 %) dan berlatarbelakang pendidikan menengah (82 %). mayoritas pengguna jalan yang mengalami kecelakaan memiliki perilaku berkendara unsafety yaitu sebanyak 80,3%. pengguna jalan yang mengalami kecelakaan terjadi pada ruas area kerawanan kecelakaan <em>(blackspot)</em> yang cukup tinggi yaitu sebesar 60 orang (44,4 %). Pengguna jalan yang mengalami kecelakaan mengalami luka berat dengan presentasi tinggi yaitu sebesar 49 % atau sejumlah 66 korban. Faktor penyebab kecelakan paling tinggi yaitu kelompok jenis kecelakan tidak memberikan prioritas Ran lain sebanyak 35 orang (25,63%). Saran berdasarkan hasil peneltiian ini diharapkan pemangku kepentingan yang terlibat dapat meningkatkan strategi keselamatan trasnportasi sebagai upaya mitigasi kecelakaan lalu lintas <em>(road traffic accident)</em></p>Mirawati TongkoAndi Munafri DMSiska Mahmud
Copyright (c) 2026 Mirawati Tongko, Andi Munafri DM, Siska Mahmud
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-01-252026-01-254214415010.51888/jpmeo.v4i2.415Hubungan Kondisi Sarana Sanitasi Dasar dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Totikum Selatan Tahun 2025
https://journal.fkm-untika.ac.id/index.php/jpmeo/article/view/398
<p>Stunting merupakan masalah gizi kronis yang ditandai dengan tinggi badan anak lebih rendah dibandingkan usia standarnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan kondisi sarana air bersih, kondisi sarana jamban, kondisi sarana tempat sampah, kondisi sarana pembuangan air limbah dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Totikum Selatan Tahun 2025. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain case control serta Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu proportional sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah kepala keluarga sebanyak 110 responden. Analisis data yang digunakan adalah analisis bivariat menggunakan uji Chi Square dan multivariat menggunakan regresi logistik dengan metode Backward LR. Hasil analisis bivariat menunjukan terdapat hubungan yang signifikan antara kondisi sarana jamban (p=0,007) dan kondisi sarana tempat sampah (p=0,023) dengan kejadian stunting. Sedangkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kondisi sarana pembuangan air limbah (p=0,074) dengan kejadian stunting. Analisis multivariat menggunakan Regresi logistik dengan metode Backward LR yaitu metode yang dilakukan secara bertahap dengan mengeluarkan variabel yang tidak signifikan hingga diperoleh model akhir. Hasil analisis multivariat menunjukan bahwa Kondisi sarana jamban adalah variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian stunting dengan nilai (P=0,005, OR=3,110). Sanitasi dasar secara tidak langsung memengaruhi gizi balita. Sanitasi yang buruk dapat menimbulkan penyakit infeksi pada balita seperti diare dan cacingan yang dapat mengganggu proses pencernaan dalam proses penyerapan nutrisi, jika kondisi ini terjadi dalam waktu yang lama dapat mengakibatkan masalah stunting.</p> <p><em>Stunting is a chronic nutritional problem characterized by a child’s height being lower than the standard age. The purpose of this study was to determine the relationship betwen the condition of clean water facilities, the condition of toilet facilities, the condition of trash can facilities, the condition of wastewater disposal facilities with the incidence of stunting in the working area of the South Totikum Commuity Health Center in 2025. The type of research used was quantitative with a case control design and the sampling technique used was proportional sampling. The sample in this study was the head of the head of the family as many 110 respondents. Data analysis used was bivariate analysis using the chi square test and multivariate using logistic regression with the Backward LR method. The results of the bivariate analysis showed a significant relationship between the condition of toilet facilities (p=0,007) and the condition of trash can facilities (p=0,023) with the incidence of stunting. Meanwhile, there was no significant relationship between the condition of wastewater disposal facilities (p=0,074) with the incidenci of stunting. Multivariate analysis used logistic regression with the Backward LR method, a method carried out in stages by removing insignificant variables until the final model was obtained. The results of the multivariate analysis showed that the condition of toilet facilities was the most influential variable on stunting incidence, with a value of (p=0,005, OR=3,110). Basic sanitation indirectly affects toddler nutrition. Poor sanitation can cause infectious diseases in toddler, such as diarrhea and worms, which can interfere with the digestive process and nutrient absorption. If this condition persists for a long time, it can lead to stunting.</em></p>Jeinlavenia KundondungErni Yusnita LalusuBambang Dwicahya
Copyright (c) 2026 Jeinlavenia Kundondung, Erni Yusnita Lalusu, Bambang Dwicahya
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-01-252026-01-254215115710.51888/jpmeo.v4i2.398