Hubungan Kondisi Sarana Sanitasi Dasar dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Totikum Selatan Tahun 2025

The Relationship between Basic Sanitation Facilities Conditions and the Incidence of Stunting in the South Totikum Community Health Center Work Area in 2025

Authors

  • Jeinlavenia Kundondung Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Tompotika Luwuk
  • Erni Yusnita Lalusu Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Tompotika Luwuk
  • Bambang Dwicahya Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Tompotika Luwuk

DOI:

https://doi.org/10.51888/jpmeo.v4i2.398

Keywords:

Stunting, sarana jamban, sarana tempat sampah, balita

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang ditandai dengan tinggi badan anak lebih rendah dibandingkan usia standarnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan kondisi sarana air bersih, kondisi sarana jamban, kondisi sarana tempat sampah, kondisi sarana pembuangan air limbah dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Totikum Selatan Tahun 2025. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain case control serta Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu proportional sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah kepala keluarga sebanyak 110 responden. Analisis data yang digunakan adalah analisis bivariat menggunakan uji Chi Square dan multivariat menggunakan regresi logistik dengan metode Backward LR. Hasil analisis bivariat menunjukan terdapat hubungan yang signifikan antara kondisi sarana jamban (p=0,007) dan kondisi sarana tempat sampah (p=0,023) dengan kejadian stunting. Sedangkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kondisi sarana pembuangan air limbah (p=0,074) dengan kejadian stunting. Analisis multivariat menggunakan Regresi logistik dengan metode Backward LR yaitu metode yang dilakukan secara bertahap dengan mengeluarkan variabel yang tidak signifikan hingga diperoleh model akhir. Hasil analisis multivariat menunjukan bahwa Kondisi sarana jamban adalah variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian stunting dengan nilai (P=0,005, OR=3,110). Sanitasi dasar secara tidak langsung memengaruhi gizi balita. Sanitasi yang buruk dapat menimbulkan penyakit infeksi pada balita seperti diare dan cacingan yang dapat mengganggu proses pencernaan dalam proses penyerapan nutrisi, jika kondisi ini terjadi dalam waktu yang lama dapat mengakibatkan masalah stunting.

Stunting is a chronic nutritional problem characterized by a child’s height being lower than the standard age. The purpose of this study was to determine the relationship betwen the condition of clean water facilities, the condition of toilet facilities, the condition of trash can facilities, the condition of wastewater disposal facilities with the incidence of stunting in the working area of the South Totikum Commuity Health Center in 2025. The type of research used was quantitative with a case control design and the sampling technique used was proportional sampling. The sample in this study was the head of the head of the family as many 110 respondents. Data analysis used was bivariate analysis using the chi square test and multivariate using logistic regression with the Backward LR method. The results of the bivariate analysis showed a significant relationship between the condition of toilet facilities (p=0,007) and the condition of trash can facilities (p=0,023) with the incidence of stunting. Meanwhile, there was no significant relationship between the condition of wastewater disposal facilities (p=0,074) with the incidenci of stunting. Multivariate analysis used logistic regression with the Backward LR method, a method carried out in stages by removing insignificant variables until the final model was obtained. The results of the multivariate analysis showed that the condition of toilet facilities was the most influential variable on stunting incidence, with a value of (p=0,005, OR=3,110). Basic sanitation indirectly affects toddler nutrition. Poor sanitation can cause infectious diseases in toddler, such as diarrhea and worms, which can interfere with the digestive process and nutrient absorption. If this condition persists for a long time, it can lead to stunting.

References

Dinas Kesehatan Kebupatan Banggai Kepulauan. (2023). Data Profil Kebupaten Banggai Kepulauan tahun 2023

Hasan, A., Kadarusman, H., & Sutopo, A. (2022). Air minum, Sanitasi dan Hygiene sebagai Faktor Risiko Stunting di Wilayah Pedesaan. Jurnal Kesehatan, 13(2)

Hasanh, S., Handayani, S., & Wilti, I. R. (2021). Hubungan Sanitasi Lingkungan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita (Studi Literatur). Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan 2(2), 83-94

Pratiwi, A. P. E., & Maharani, N. E. (2025). Hubungan Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Stunting pada Balita. Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal, 15(3), 535-544

Ramli Ramli, M. S. (2022). Factors Influencing the Incidence of Stunting in Jaya Bakti Village,Pagimana District, Banggai Regency. Open Access Maced J Med Sci. 2022 Feb 15; 10(E):303-307., 303-307

Wulandari, R. F. & D. (2019). Hubungan sanitasi lingkungan dan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting di wilayah kerja puskesmas Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara tahun 2019. Jurnal Avicenna, 14(2),1-12.

Zalukhu, A., Mariyona, K., & Andriani, L. (2022). Hubungan Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Stunting pada Anak Balita (0-59) Bulan di Nagari Balingka Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam Tahun 2021. Jurnal Ners, 6(1), 52-60

Published

2026-01-25

How to Cite

Kundondung, J., Lalusu, E. Y. ., & Dwicahya, B. (2026). Hubungan Kondisi Sarana Sanitasi Dasar dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Totikum Selatan Tahun 2025: The Relationship between Basic Sanitation Facilities Conditions and the Incidence of Stunting in the South Totikum Community Health Center Work Area in 2025. Buletin Kesehatan Mahasiswa, 4(2), 151-157. https://doi.org/10.51888/jpmeo.v4i2.398