Gambaran Gangguan Pendengaran pada Karyawan di PT Unit Layanan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (ULPLTD) Luwuk

Description of Hearing Loss in Employees at PT Luwuk Diesel Power Plant Service Unit (ULPLTD)

Authors

  • Fitri Ramadani Irwan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Tompotika Luwuk
  • Maria Kanan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Tompotika Luwuk
  • Mirawati Tongko Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Tompotika Luwuk
  • Sandy Novriyanto Sakati Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Tompotika Luwuk
  • Dwi Wahyu Balebu Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Tompotika Luwuk
  • Ferdy Salamat Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Tompotika Luwuk

DOI:

https://doi.org/10.51888/jpmeo.v4i2.401

Keywords:

Gangguan pendengaran, kebisingan, tes pendengaran, audiometri tutur, K3

Abstract

Gangguan pendengaran akibat kebisingan merupakan salah satu dampak lingkungan kerja yang tidak aman dan menjadi isu penting dalam keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Data WHO (2023) menunjukkan sekitar 430 juta orang mengalami gangguan pendengaran dan diperkirakan meningkat hingga 700 juta pada tahun 2050. Industri pembangkit listrik termasuk sektor dengan tingkat kebisingan tinggi yang berisiko menimbulkan gangguan pendengaran pada pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran gangguan pendengaran pada karyawan PT Unit Layanan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (ULPLTD) Luwuk. Penelitian menggunakan desain observasional deskriptif dengan teknik total sampling terhadap 66 pekerja aktif. Pemeriksaan pendengaran dilakukan menggunakan hearing test berbasis frekuensi suara (Pitch/Hz) dan audiometri tutur, kemudian dianalisis secara univariat. Hasil menunjukkan bahwa pada telinga kanan, sebagian besar pekerja memiliki pendengaran normal (78,6%), sedangkan 16,1% mengalami gangguan pendengaran ringan dan 5,4% sedang. Pada telinga kiri, 87,5% pekerja memiliki pendengaran normal, 10,7% mengalami gangguan ringan, dan 1,8% sedang. Secara keseluruhan, terdapat 19,7% pekerja yang mengalami gangguan pendengaran ringan hingga sedang pada salah satu atau kedua telinga. Pemeriksaan audiometri tutur menunjukkan seluruh pekerja masih mampu mengenali dan memahami suara dengan baik. Gangguan pendengaran diduga berkaitan dengan paparan kebisingan yang melebihi Nilai Ambang Batas 85 dBA. Oleh karena itu, perusahaan disarankan melakukan deteksi dini secara berkala, pengendalian kebisingan, serta meningkatkan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri.

Noise-induced hearing loss is one of the impacts of unsafe working environments and remains an important issue in occupational health and safety. According to the World Health Organization (2023), approximately 430 million people worldwide experience hearing impairment, and this number is projected to increase to 700 million by 2050. Power generation industries are among the sectors with high noise exposure, placing workers at risk of hearing disorders. This study aimed to describe the occurrence of hearing disorders among employees at the Diesel Power Plant Service Unit (ULPLTD) Luwuk. A descriptive observational study was conducted using a total sampling technique involving 66 active workers. Hearing assessments were performed using frequency-based hearing tests (Pitch/Hz) and speech audiometry. Data were analyzed using univariate analysis. The results showed that in the right ear, 78.6% of workers had normal hearing, while 16.1% experienced mild hearing loss and 5.4% had moderate hearing loss. In the left ear, 87.5% of workers had normal hearing, 10.7% had mild hearing loss, and 1.8% had moderate hearing loss. Overall, 19.7% of workers experienced mild to moderate hearing loss in one or both ears. Speech audiometry indicated that all workers (100%) were still able to recognize and understand speech sounds. Hearing disorders were suspected to be associated with noise exposure exceeding the permissible exposure limit of 85 dBA. Therefore, regular early detection, effective noise control measures, and strict use of personal protective equipment are strongly recommended.

References

Ainurrazaq, & Safitri, I. (2022). Faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan gangguan pendengaran pada pekerja batu bata di Desa Talang Belido Kecamatan Sungai Delam Kabupaten Muaro Jambi tahun 2021. Jurnal Inovasi Penelitian, 2(12), 3927-3932.

Chen, X., Zhang, C., & Wang, Y. (2020). Occupational noise exposure and adult hearing loss: A global perspective. Journal of Occupational Health, 62(4), 123–130.

International Labour Organization (ILO). (2018). Safety and health at the heart of the future of work: Building on 100 years of experience. Geneva: ILO. https://www.ilo.org/global/topics/safety-and-health-at-work/lang--en/index.htm

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Infodatin: Gangguan pendengaran dan ketulian. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. https://www.kemkes.go.id

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Infodatin: Penyandang disabilitas di Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. https://www.kemkes.go.id

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Infodatin: Penyandang disabilitas di Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. https://www.kemkes.go.id

Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia. (2011). Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor PER.13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Kimia di Tempat Kerja. Jakarta: Kemnaker RI.

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia. (2011). Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Kimia di Tempat Kerja.

Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia. (2011). Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor Per.13/MEN/X/2011 tentang nilai ambang batas faktor fisika kimia kebisingan. Jakarta: Kementerian Tenaga Kerja RI.

Kujawa, S. G., & Liberman, M. C. (2020). Gangguan pendengaran tersembunyi dan patofisiologi cedera koklea akibat kebisingan. Hearing Research, 403, 108190.

Kurniawidjaja, L. M., & Ramdhan, D. H. (2019). Penyakit akibat kerja dan surveilans.Jakarta: UI Publishing.

Le, T. N., Straatman, L. V., Lea, J., & Westerberg, B. (2022). Current insights in noise-induced hearing loss: A literature review of the underlying pathophysiology, the diagnostic methods, and current strategies of prevention. Hearing Research, 418, 108491. https://doi.org/10.1016/j.heares.2021.108491

Putri, D. A., Widhiastuti, R., & Hidayah, S. (2021). Gangguan pendengaran akibat paparan kebisingan di tempat kerja: Studi kasus di Indonesia. Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia, 16(2), 56–64.

Rahmat, A. (2019). Hubungan intensitas kebisingan dengan kelelahan dan tekanan darah pekerja arena bermain di Kota Jayapura tahun 2019. ResearchGate. Diakses pada 11 Maret 2025.

Rahmawati Suparno, 2013. “Analisis Tingkat di Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Luwuk Banggai Tahun 2013.” Jurnal Kesehatan Masyarakat 8 (3), 2964-7630

Suter, A. H. (2020). The Effects of Noise on Hearing. National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH).

World Health Organization (WHO). (2019). Deafness and hearing loss: Global burden of hearing disorders. Geneva: WHO. https://www.who.int/news-room/fact- sheets/detail/deafness-and-hearing-loss

World Health Organization. (2023). World Report on Hearing. Geneva: WHO. Retrieved from https://www.who.int/publications/i/item/9789240020481

Published

2026-01-25

How to Cite

Irwan, F. R. ., Kanan, M., Tongko, M., Sakati, S. N., Balebu, D. W. ., & Salamat, F. (2026). Gambaran Gangguan Pendengaran pada Karyawan di PT Unit Layanan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (ULPLTD) Luwuk : Description of Hearing Loss in Employees at PT Luwuk Diesel Power Plant Service Unit (ULPLTD). Buletin Kesehatan Mahasiswa, 4(2), 132-138. https://doi.org/10.51888/jpmeo.v4i2.401